Selasa, 30 April 2013

BERTEMU SEORANG BEDI .. PEMUDA KENDURUAN TUBAN




Pertama kali melihatnya tak terpikir untuk bisa selalu bersamanya, itulah indahnya rahasia Allah tentang yang namanya jodoh. Kami bertemu saat salah satu teman sekos dan sekelasnya mengajak main ke kosanku di malam minggu. Dia pendiam, hmmm?? boleh dibilang ga banyak kata dan senyumpun juga susah. Penampilan sangat sederhana, badanya yang kecil dibalut dengan celana ketat dan kaos yang kedodoran serta rambutnya sedikit panjang kruil menyentuh lehernya. Pertemuan pertama kali itu sama sekali tak ada dalam ingatan aku, tapi waktu ke waktu setelah itu semakin mengenalkanku pada seorang BEDI ini tepatnya Achmad Zubaidi. Ternyata dia memang pendiam, dibesarkan oleh seorang ayah yang guru di desa jauh dari kota Tuban tepatnya Sidomukti Kenduruan TUBAN dan seorang ibu yang selalu berusaha melakukan yang terbaik untuk anak-anaknya terutama dalam hal sekolah.
Kesederhanaan membuatku sedikit ingin tahu mengenai sosok satu orang ini yang hari demi hari membuat kami semakin dekat karena kosannya selalu aku lewati andai berangkat ke kampus, kadang mampir sebentar cuma sekedar nengok ngapain tu para cowok di kosan, ada yang nyanyi2 gitaran, ngerjain tugas atau cuma sekedar bercanda bersama (ternyata sama juga kalo anak kos putri ngumpul)
Dan ternyata dia adalah anak laki-laki pertama di keluarganya karena kedua kakaknya adalah perempuan, besar dalam keterbatasan karena harus berbagi dengan keenam saudaranya membuatnya bijaksana dalam melakukan apapun. Kemudian saat di kampus pula dia mengikuti kegiatan Karate Inkai sama seperti aku yang waktu itu ikut kegiatan Tae Kwon do, satu hal seorang yang menguasai satu bidang olah raga selain badannya sehat pasti jiwanya juga kuat dan sportif itu yang aku suka.
Hanya beberapa bulan setelah mengenalnya mungkin termasuk yang sesuai untuk kesekian kriteriaku dalam menemukan teman hidup, bukan termasuk penampilan karena itu masih bisa dimake over. Bagiku hanya wajib beragama Islam, yang pasti belajar di bidang teknik, tidak merokok, menguasai 1 bidang olah raga juga anak laki-laki pertama karena biasanya anak laki-laki pertama itu bertanggung jawab peduli sama adik-adiknya. Ini adalah penentuan sebagai teman hidup bukanlah teman yang hanya menemani kita sehari dua hari atau bulan atau tahun, tapi selamanya. Allah memang tak pernah menunjukkan siapa jodoh kita secara langsung, tapi ikhtiar selain berdoa adalah melihat dari sikap dan tindakan yang bisa mendukung yang bersangkutan hingga kelak bisa memikul tanggung jawab sebagai suami dan ayah anak-anak adalah hal yang tak gampang dilakukan (buat aku lo ya?). 
Dan alhamdulillah Allah memberikan apa yang aku doakan dengan kehadirannya seorang mas Bedi.
Awal jadiannya mungkin bisa dibilang spesial, karena bisikan beberapa teman yang mengatakan dia murung karena aku (hikss asli geer tibakno), membuatku memberanikan diri menanyakan kepadanya ".... Kamu suka sama aku ya??"  untungnya waktu itu dijawab "Itu kan hakku" coba kalau dijawab enggak ya EGP saja sih hahaha. Padahal setelahnya dia cerita murungnya karena ortunya mungkin ga bisa lagi 100% membiayai kuliah karena adiknya juga musti kuliah.
Kalau boleh jujur hari-hari penyesuaian diri saat masih sama-sama kuliah adalah hari-hari yang saat itu rasanya sangat tersiksa, setiap detik memikirkan apa yang sedang dilakukannya sementara waktu itu belum ada hp yang bisa sms atau telpon setiap waktu. Andai janjian ketemu untuk makan bareng terus tak bisa datang saja sudah nangis berurai-urai (kalau ingat lebay banget deh!!) paling alasannya adalah ngerjain tugas, maklum mahasiswa teknik. gitu kali waktu itu. Seingatku dulu kalau berkunjung ke kosanku dia membunyikan bell secara khusus sehingga apabila bell itu berbunyi maka sekosan akan berteriak memanggilku. Satu cerita yang tak akan terlupa.
Saat lulus aku lebih dulu untuk wisudanya aku usahakan bersama yang justru waktu itu aku sudah bekerja sebagai HRD di sebuah perusahaan lampu di sidoarjo. Dan dia kerja membuat waduk di tepi sungai porong setelah lulus kuliah. Meskipun sering beda pendapat, dimana aku sebagai perempuan lebih mengedepankan perasaan sementara dia selalu berpikir sehingga banyak hari-hari malah terkadang membuat aku berpikir kalau terus beda pendapat bagaimana nanti bila sudah hidup bersama. Tetapi kembali lagi dalam doa ku mendapat keyakinan bahwa apa yang telah aku tetapkan berdasar penilaian yang maksimal itu tentu lebih bisa mengatasi apapun permasalahan yang nanti kami hadapi. Dan alhamdulillah, waktu berlalu akhirnya tepat 2 september 1995 dia mengucapkan ijabnya di depan alm. bapakku.  
Dan alhamdulillah perjalanan pernikahan kami hingga detik ini berjalan baik, Allah memberi kepercayaan kepada kami untuk menjaga 3 buah hati kami :
ACHMAD ADHIAKSA HUTOMO lahir 10 Agustus 1996 
RACHMA AZAHRA RAMADHANI lahir 28 Oktober 2003
RACHMA INDIRA ASASHITA lahir 5 Agustus 2005.


Tetap ada kerikil yang harus kami lewati, tetapi kembali percayaku kepada Yang Maha Kuasa saat mempertemukan kami selalu bisa menuntun aku untuk bisa melangkah hingga detik ini. 
Terimakasih dan Alhamdulillah selalu aku panjatkan di setiap doa dan sholat bersama mas Bedi, mohon selalu petunjuk untuk bisa membimbing kami dan anak-anak hingga kelak bisa berguna bagi orang banyak.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar