Senin, 13 Mei 2013

AKU DAN SAUDARA-SAUDARAKU



Bersyukur selalu menjadi bagian mereka, keluarga bpk H. Soedanang, BA alm beserta ibu. Kami 7 bersaudara, kalau segala pengalaman terbaikku bersama masing-masing aku tulis, mungkin bisa menghabiskan berjam-jam. Tapi yang pasti akan tetap berbagi.
Aku perkenalkan saudara-saudara aku :
Kakak pertama aku HERI SUSITOWATI beliau meninggal di usianya yang ke 49 karena sakit kanker paru-paru. satu hal yang selalu kuingat dari beliau adalah orang pertama yang mengingatkan aku untuk memakai kerudung. Saat itu aku baru sembuh setelah terkena kista kata beliau mengingatkan kalau saat kuliah dulu pernah curhat kepadanya kalau ingin pakai kerudung, "sekarang saatnya" (maklum nih karena sanguin jadi pelupa banget kalo pernah bilang pingin pakai kerudung hehehe) akhirnya alhamdulillah, meski masih belum sempurna aku sudah mengenakannya dan berusaha untuk bisa sempurna mengenakannya.
Kakak kedua aku HERI ERIA WIBOWO beliau selalu memberikanku semangat dan motivasi untuk melakukan apapun dengan maksimal, bersyukur selalu bisa mendapatkan percayanya meskipun terkadang mengecewakan tetapi beliau selalu mendukung dan mensupportku untuk selalu berbuat yang bermanfaat buat orang lain. Dan itu tak akan aku lupakan.
Kakak ketigaku HERI WITRI AGUSTIN, satu orang ini yang mengikuti jejak alhmarhum bapak untuk menjadi guru atau pahlawan tanda jasa. Yang paling berarti aku lihat dalam dirinya adalah pengorbanannya bersama keluarga kecilnya untuk menemani ibuku yang sekarang seorang diri di rumah kami tumbuh besar, karang empat surabaya. Karena dari masing-masing kami sudah berkeluarga dan harus mengikuti keluarga kami berada. Terimakasih kakakku.
Kakak keempatku HERI AGUS DWIYANTO, termasuk seorang yang pendiam tak banyak komentar tetapi dia juga peduli sama kami adik-adiknya seperti kakak kami yang lain. Yang aku ingat darinya adalah seorang yang mengajak aku ke serpong tangerang waktu itu karena suamiku mesti berdinas di Jakarta di tahun 1998. Beberapa bulan setelah terjadi kerusuhan mei 1998 aku hijarah dari surabaya ke serpong memulai hidup kami sendiri.
Adik perempuanku HERI EKA PELITA LISTIJORINI, padanya aku lihat banyak kesabaran untuk menjalani kehidupan yang dimilikinya bersama keluarga kecilnya. Bahwa apapun yang dihadapi dengan kesabaran pasti indah pada akhirnya.
Adik terakhirku HERRY YOGI NURRAHARTO, keputusannya untuk membangun masa depannya di "hutan" Manis Mata Kalimantan adalah suatu keputusan terbaik bagi kami semua. Mengembangkan ilmu arsiteknya di sebuah perusahaan asing kelapa sawit di sana, dan istrinya yang selalu sabar mendampinginya juga mengajar SMA di sana. 

Merekalah orang-orang yang terbaik selain keluarga kecilku yang sekarang aku miliki, tanpa bimbingan yang mungkin dulu terasa susah dan sulit mungkin tak akan aku bisa memahami bahwa dalam kehidupan itu semua harus dilalui prosesnya, proses untuk bisa lebih baik. Bahwa dengan kesabaran dan bersyukur, semua akan indah pada akhirnya.  

Tidak ada komentar:

Posting Komentar